Sabtu, 19 November 2011

Sepenggal Kisahku di Bintaro

Terjatuhlah terlebih dahulu untuk bangkit dan
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Edisi 19 Nop 2011 - Peribahasa di atas mungkin paling tepat untuk menggambarkan ceritaku kali ini. Walaupun jatuh itu pasti menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan lagi jika Anda tidak pernah terjatuh. Benar begitu?
Ceritaku berawal dari sebuah pelajaran berharga di Bintaro, domisili penulis sekarang.

Saat ini, aku sedang menjalani tugas belajar dari kantor untuk menyelesaikan studi program diploma III kurikulum khusus akuntansi pemerintahan di salah satu sekolah tinggi kedinasan di Indonesia dan tengah memasuki Semester 4.

Ini adalah sebuah pilihan berat bagiku. Di satu sisi, aku dibebaskan dari segala rutinitas di kantor. Di sisi lain, aku merasa ketakutan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Mendengar kata Akuntansi saja, aku sudah enggan. Apalagi mempelajarinya selama 2 tahun ke depan. OMG…..!!!! Namun, aku haqqul yakin bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang tidak bisa dipelajari. Begitu pula dengan Mata Kuliah Akuntansi. Segala puji bagi Allah SWT, yang memudahkan segala langkahku. Terima Kasih Ya Rabb.

Saat aku merasa gagal di salah satu mata kuliah, aku merasakan pahit yang teramat dalam. Aku merasa gagal di Semester I yang lalu. Kegagalan yang lalu bukan berarti membuat aku terjatuh lagi untuk ke depannya. Semoga Ya Allah. Amin33x. Aku tersadar dari lamunanku selama ini. Sepanjang itulah aku menyesali, secepat itu pula ku bangkit. Alhamdulillah, sesuatu yang patut disyukuri ya…He-he-he.

Di tempat ini, aku menjerit
Di tempat ini, aku terjatuh
Di tempat ini, aku tersadar
Di tempat ini, aku bangkit
Di tempat ini, aku menuntut ilmu
Di tempat ini, aku menghargai waktu
Di tempat ini, aku ditentukan.

Kampus kebanggaanku,
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Rabu, 02 Juni 2010

Wagina Bicara

Materi tak selamanya membuat kita bahagia tetapi tak bisa dipungkiri bahwa materi juga sangat penting dalam hidup.

Siapa sich yang gak butuh makan, punya sekolah bagus, punya rumah yang bisa dijadikan naungan berteduh dari ganasnya kehidupan di luar, apalagi di Ibu kota Jakarta. Peliknya masalah ekonomi dan hidup seba kekurangan kerap membuat manusia lupa sesungguhnya manusia diciptakan oleh Tuhan untuk mengabdi kepada-Nya. Hidup serba susah jaman sekarang, apa saja bisa dijadikan ‘alat’ asal dapat duit entah itu halal atau haram. MasyaAllah, manusia memang punya nafsu dunia tapi kita sebagai makhluk Allah yang sempurna, telah diberi akal & pikiran yang membuat kita lebih layak menjadi seorang ‘khalifah’ di muka bumi. Pemimpin tidak hanya buat istri dan anak-anak kita kelak tapi juga khalifah bagi orang-orang berakal untuk menasihati kebaikan kepada sesama umat Islam. Seorang pemimpin yang baik juga harus mampu membedakan mana yang haq & bathil misalkan untuk istri & anaknya.

Penulis begitu terhentak tatkala serial FTV SCTV yang berjudul Wagina Bicara diputar kemarin malam (01/06) pukul 22.00 WIB. Dari scene-nya saja penulis merasa tertarik untuk terus mengikuti alur cerita. Apalagi film tersebut memunculkan seorang tokoh yang diberi nama Wagina, seorang gadis berlatar belakang desa, innocent dan sangat menjunjung tinggi kodratnya yang terlahir sebagai perempuan. Selama ini memang para pria lah yang dikodratkan menjadi pemimpin bagi kaum perempuan terutama istri & anak-anaknya. Kata ‘pemimpin’ ini sering disalahartikan oleh segolongan pria di Indonesia masa lampau sebelum adanya emansipasi yang dipelopori oleh RA.Kartini.

Perempuan kerap menjadi bulan-bulanan dan diremehkan oleh kaum pria. Penulis merasa mendapat banyak sekali nilai-nilai (value added) yang bisa dijadikan motivasi dalam hidup. Sebuah FTV yang disutradarai oleh Dedi Setiadi mampu mengguncang emosi penonton. Wagina yang diperankan oleh aktris Kinaryosih telah menyibak celah-celah kebohongan yang diselimuti kekerasan dalam rumah tangganya dengan mengungkapkan kebenaran yang tidak bisa disembunyikannya. Selain Kinaryosih, aktor senior kita Alex Komang juga turut ambil bagian dalam alur cerita. Alex berperan sebagai Drajat, seorang karyawan Akuntan di pabrik tempat Wagina bekerja. Drajat, sosok pria separuh abad yang belum juga punya istri, karena kekesalannya terhadap ibu kandungnya sendiri lantaran dianggap tidak bisa setia kepada ayah kandungnya yang sakit-sakitan sedari kala dan miskin pula. Ia menaruh kekecewaan teramat berat kepada ibunya, karena lebih memilih untuk menikah lagi dengan seorang pria kaya yang sama sekali tidak dia cintai.

Sementara itu di lain tempat, Wagina yang masih bersuamikan San –lelaki yang suka mabuk-mabukan, judi, adu ayam dan main perempuan- kerap memperlakukan Wagina dengan kasar. Sampai akhirnya sandiwara pun dibuat olehnya hanya untuk memperalat Wagina. Kala itu, terlibat pertikaian hebat di antara San dan Wagina, sampai ujungnya Wagina memakai pisau untuk melampiaskan amarahnya yakni dengan menusuk San. Kemudian, San pura-pura mengeram kesakitan dan akhirnya Wagina sontak berlari terbirit-birit lantaran takut kalau-kalau San meninggal sehingga ada yang berniat memasukkannya ke penjara dengan dalih pembunuhan.

Di tengah jalan dalam situasi Wagina masih dikejar-kejar oleh teman San (2 orang) dan untungnya Waniga langsung masuk ke dalam mobil milik Pak Drajat. Wagina minta tolong agar dia dibawa pergi ke mana saja, ke tempat yang jauh agar penduduk desa tidak menemukannya karena yang Wagina butuhkan saat ini hanyalah ketenangan dan menghindar dari kejaran teman-teman San.

Semua orang mencari Wagina kala itu. Tetapi berkat kebaikan Drajat menolong Wagina, sampai akhirnya dia pun merasa berhutang budi padanya. Wagina mendengar keluh kesah dari Drajat tentang masa lalunya di kampung. Surat-surat yang ibu kandungnya kirim kepada Drajat tak pernah dibaca olehnya. Ujungnya, surat terakhir dia baca juga yang intinya memberitahukan bahwa Ibunya sakit dan mendambakan dapat segera menimang cucu.

Pada awalnya, Drajat memang sempat berbohong kepada ibunya bahwa dia sudah menikah dengan seorang perempuan kota. Wagina pun mau membantu Drajat untuk bersandiwara sebagai istri bohongan. Demi membahagiakan seorang Ibu, Wagina rela dianggap istri Drajat. Drajat pun senang karena akhirnya ada seorang wanita baik dan tulus seperti Wagina bisa menjadi mantu buat Ibu Drajat yang sudah ingin sekali bertemu dengan perempuan yang dinikahinya yang disebut-sebut sebagai mantu itu.

Akhirnya, Wagina memerankan peran sebagai istri Drajat dengan tinggal di rumah Ibunya di sebuah kampung. Ibu sangat senang manakala Wagina bisa memijit pundaknya. Dia senang dan sangat bangga punya mantu seperti Wagina.

Di lain tempat, Drajat harus pamit ke rumah aslinya di sana hendak menyelesaikan pekerjaannya di kantor sekaligus mengecek bagaimana keadaan suami Wagina yang tertusuk oleh gadis polos itu.

Gambaran yang sungguh ironi, sementara Wagina menolong Drajat di rumah ibunya, San (suami Wagina) malah sedang asyiknya bermain cinta dengan perempuan binal dan sudah ‘kumpul kebo’ malah. Sungguh suami yang tidak tahu diri. Mungkin urat malunya sudah putus kali yee…..!

Setelah itu, Drajat memutuskan hendak pulang ke rumah Ibunya di kampung karena rasa rindunya yang tak tertahankan pada Wagina. Selama ini ternyata Drajat menyimpan perasaan bahwa ia telah jatuh cinta kepada gadis ayu itu. Ia selalu menyempatkan diri membelikan segala kebutuhan Wagina dari mulai baju, sepatu, dsb. Wagina pada saat itu belum menaruh rasa cinta padanya.

Sampai akhirnya….
Suatu ketika di suatu hari keberanian Wagina muncul. Dia berterus terang kepada Ibu Drajat kalau dia hanya buruhnya saja dan istri orang. Dia hanya menolong Drajat untuk bersandiwara sebagai istrinya saja.

Ibu sangat memahami hal itu dan berusaha mencegah Wagina pergi, tapi apalah daya, Wagina tetap bersikukuh pergi untuk kembali kepada suaminya di sebrang sana…
Entah bodoh entah karena kepatuhan kepada sang suami, Wagina berjalan langkah demi langkah menuju rumahnya hendak melihat bagaimana perkembangan rumah setelah kepergiannya.

Alhasil, dia malah bertemu dengan cewek binal itu…hikz hikz…
Wagina…Wagina…Sungguh malang nasibmu…! ! !
Dia minta diceraikan dan memilih untuk menjadi TKI untuk membiayai sidang-sidang perceraiannya.

Di tengah perjalanan, Drajat dengan senang berharap bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Eh, malah Waginanya sudah pergi…
Drajat sontak memarahi Ibunya, kenapa ia usir Wagina dari rumah…???
Tatkala itu, terjadi pertengkaran yang sangat di antara anak dan ibu di kamar itu.
Drajat hanya bisa memarahi tindakan Ibunya masa lalu yang mau-maunya menikah dengan pria lain demi harta dan meninggalkan suaminya pertama yang kala itu sedang sakit-sakitan bahkan buat biaya berobat ke rumah sakit saja untuk menyembuhkan penyakit diabetes saja tidak bisa. Sungguh lemah kondisi ekonominya kala itu.

Sang Ibu terpaksa menanggalkan cintanya kepada suami dan memilih menikah dengan pria kaya yang sama sekali tidak dia cintai. Semua itu demi apa???
Demi anak-anaknya, masa depan Drajat ada di tangan Sang Ibu. Mana mungkin Drajat bisa menjadi seorang pria berprofesi sebagai Akuntan yang kala itu gajinya sangat besar sekali. Bisa dibayangkan, pengorbanan seorang Ibu demi sang anak hanya agar anaknya kelak sukses dan tidak kekurangan apapun dalam membiayai hidupnya. Bisa ga ya penulis nanti berkorban seperti ini???

Nasib ada di tangan kita sendiri untuk menciptakan masa depan generasi kita selanjutnya. Anak adalah titipan dan amanah. Sebisa mungkin dijaga dan dipelihara.
Kalau penulis simpulkan, value added yang bisa diambil dari kisah gadis polos di Film Wagina Bicara apa aja ya…yuks kita baca.

1. Nilai kepatuhan dan kesopanan

Dalam rumah tangga, suami sebagai pemimpin keluarga dan istri sebagai penasihat keluarga dalam mengambil keputusan. Istri yang baik harus bijak dan patuh pada suami. Eits…tapi suami juga harus mengayomi istri. Demi kebahagiaan bersama.

2. Nilai kemanusiaan

Tindakan Drajat dengan menolong Wagina bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa ketulusan dan pengorbanan dalam hidup bisa kita perjuangkan.

3. Nilai kesetiaan

Ketulusan cinta adalah senjata memperoleh kebahagiaan sejati. Cinta yang tulus disertai dengan pengorbanan, hidup menjadi lebih bermakna.

4. Nilai toleransi

Sesama manusia harus saling menghormati hak masing-masing. Hidup bersama yang penuh dengan paksaan akan membuat dunia menjadi gelap. Yukz..kita warnai hidup dengan saling menghormati satu sama lain, saling mengasihi sesama de el el.

Kamis, 10 September 2009

Jangan Lewatkan Ramadhan dengan Sia-Sia



Tak terasa sudah kita menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan kali ini, aku bersyukur karena diantara orang-orang beriman lainnya, aku masih diberi kesempatan untuk dapat merasakan indahnya beribadah di bulan yang mulia ini. Tidak hanya ibadah fisik yang kita jalani saat ini, akan tetapi sebuah momen untuk menjadikan hawa nafsu kita terkendali dari segala maksiat dan perbuatan keji yang dilarang oleh agama Islam.

Ibadah puasa merupakan ibadah wajib bagi umat Islam di seluruh dunia. Maka jangan lewatkan dengan sia-sia Ramadhan kali ini. Segala ibadah yang ikhlas mengharap ridho Allah SWT, insyaAllah semua amal ibadah kita diterima oleh-Nya. Amin. Apa saja yang bisa kita perbuat untuk mengisi setiap nafas kita dalam naungan Ramadhan suci? Banyak sekali. Tak bisa terhitung oleh diri kita sendiri. Allah telah menciptakan manusia di muka bumi ini tak terkecuali untuk beribadah dan menyembah kepada Dzat Yang Maha Kuasa itu. Oleh karena itu, kita dituntun oleh Rasulullah SAW untuk senantiasa memperbanyak amalan-amalan di bulan suci Ramadhan.
Berikut merupakan tips agar bisa melewatkan momen bulan suci Ramadhan yang bermanfaat :

a) Niatkan diri sedari awal memasuki bulan suci Ramadhan untuk senantiasa beribadah hanya kepada Allah lillahi Ta’ala maka insyaAllah ibadah puasa kita akan diterima oleh-Nya;

b) Jangan terlena barang sedikit pun dari godaan syaithan di sekeliling kita untuk tidak menyegerakan sholat lima waktu, karena ibadah puasa harus diiringi dengan sholat yang baik. Karena bagaimana pun seseorang beriman yang berpuasa tanpa dibarengi dengan sholat yang baik dan khusyu’, maka dapat dipastikan ibadah puasa orang tersebut tidak akan diterima oleh Allah SWT. Terkecuali ditujuan bagi mereka yang berpuasa, dengan tidak melengkapi sholat lima waktunya, diharapkan mereka-mereka dapat melengkapi dengan ibadah sholat lima waktu dengan berpuasa, insyaAllah jika mereka bertaubat maka Allah SWT dapat menerima ibadah puasa mereka;

c) Barengi ibadah puasa di bulan yang penuh berkah ini dengan amalan-amalan sunnah yang lainnya, seperti sholat tarawih di malam hari, tadarus, memahami makna Al Quran, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan bershodaqoh amal jariyah serta amalan-amalan lain yang diniatkan hanya untuk mencari ridho dari Allah semata;

d) Jauhkan diri dari perbuatan zina baik itu zina mata, hati, dsb. Semua perbuatan tercela tersebut dapat mendekatkan kita kepada kemudharatan dan menjauhkan kita dari Allah SWT;

e) Bersihkan hati, fikiran, dan perbuatan dari segala hal yang dapat menjerumuskan kita umat Islam yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT;

f) Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur karena dengan menyegerakan berbuka puasa berarti kita menghormati amal ibadah kita seharian penuh, sementara mengakhirkan sahur, karena sesungguhnya di dalam makan sahur itu terdapat barokah;

g) Jangan berprasangka buruk kepada Allah sedikit pun ketika sedang diuji oleh-Nya dengan berbagai ujian dan cobaan seberat apapun, karena sesungguhnya di balik itu semua, Allah memberikan hikmah dan sayang kepada kita;

h) InsyaAllah, amal ibadah kita di bulan suci Ramadhan kali ini akan mendapatkan ridho dari-Nya. Amiin. Amin ya Robbal ‘Alamin.

Mudah-mudahan, bacaan ringan ini bisa sedikit memberikan siraman rohani kepada pembacanya. Ingat, Ramadhan tidak akan datang setiap hari, jangan sia-siakan momentum yang sangat istimewa ini dengan bermalas-malasan, tingkatkan amal ibadah kita dan senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dimana pun kita berada. InsyaAllah kita akan mendapatkan hidayah dari-Nya. Amiin.

Jumat, 31 Juli 2009

Selamat Datang Dirjen Pajak Untuk Reformasi Perpajakan Jilid II

Selamat datang Bapak Dirjen Pajak kita untuk Reformasi Perpajakan Jilid II, Drs. Mochammad Tjiptardjo M.A. Sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2009 yang ditetapkan pada tanggal 23 Juli 2009, dengan ini telah resmi memberhentikan Dirjen Pajak Darmin Nasution, Bapak Reformasi Perpajakan Jilid I. Seperti diketahui, Darmin telah mendapatkan kepercayaan dari Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengemban tugas menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menggantikan Miranda Swaray Goeltom yang habis masa jabatannya, 27 Juli 2009.

Dikatakan Menkeu sekaligus Plt Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengenai siapakah pengganti Dirjen Pajak Darmin Nasution tidak akan jadi masalah. “Bahwa reform is going to be continued, no matter siapa yang memimpin Ditjen Pajak,” kata Sri Mulyani dalam sambutannya dalam acara Pencanangan Reformasi Jilid Kedua Direktorat Jenderal Pajak di Dhanapala. Siapapun yang memimpin, dia adalah orang yang akan bisa menjalankan, meneruskan, dan tidak akan membuat reformasi itu mengalami set back. Mengenai siapa figur Dirjen Pajak memang tidak bisa dielakkan baik oleh media massa, Dewan dan khalayak ramai karena pajak merupakan satu bagian yang begitu penting di dalam kehidupan bernegara dan perekonomian. Tidak ada satu negara dapat menyatakan dirinya sebagai negara maju tanpa didukung oleh suatu sistem administrasi dan aparat perpajakan yang handal, berintegritas dan kompeten. Bahkan dapat dikatakan suatu sistem politik yang berlandaskan kepada azas demokrasi dan desentralisasi tidak akan bisa berjalan secara amanah dan bermutu apabila tidak ditopang oleh sebuah sistem perpajakan yang baik dan kredibel.

Kita memahami bahwa membangun suatu sistem administrasi dan aparat pajak yang baik, kompeten dan kredibel bukan suatu persoalan yang mudah. Apalagi untuk mempertahankannya. Hal ini akan menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi Dirjen Pajak kita yang baru, Drs. Mochammad Tjiptardjo. Diharapkan, Dirjen Pajak yang baru bisa meneruskan reformasi yang telah dirintis oleh Dirjen Pajak Darmin Nasution.

Sejak kemerdekaan Indonesia mencatat bahwa reformasi di bidang perpajakan berjalan begitu lambat dan sulit. Zaman orde lama Indonesia masih sangat tergantung kepada pajak atas komoditas atau ekspor. Zaman orde baru penerimaan migas dijadikan sebagai andalan utama. Pada periode awal tahun 80 an baru dimulai suatu upaya reformasi perpajakan dengan memperbaiki peraturan perpajakan atau perundang-undangannya. Reformasi masa itu tidak memberikan dampak yang cukup berarti karena administrasi perpajakan, kompetensi serta integritas aparat pajak tidak diperbaiki juga secara sistematik. Dengan demikian, memperbaiki peraturan perundang-undangan hanya merupakan satu elemen dari reformasi. Tanpa perbaikan secara sistematis, administrasi dan aparat pajaknya maka reformasi itu tidak akan menghasilkan hal yang berarti dan bertahan lama. Setelah masa orde baru, kita memasuki tahap reformasi. Kita tahu bahwa reformasi di bidang perpajakan dilakukan dengan desain yang jauh lebih komprehensif dan ini menuntut beberapa implikasi dan konsekuensi kepada kita semua.

Reformasi di bidang pajak semenjak orde baru atau semenjak selesainya orde baru dan masuk masa reformasi bisa dikategorikan di dalam empat hal. Pertama, memperbaiki peraturan perundang-undangan dan dalam hal ini dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, menyelesaikan amandemen Undang-Undang KUP, Undang-Undang PPh dan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diperkirakan akan segera selesai pada masa sidang ini. Memperbaiki Undang-Undang ini dengan spirit untuk lebih sederhana namun bisa responsif dan memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara wajib pajak dan juga memberikan kepastian hukum kepada wajib pajak dan kepada aparat pajaknya. Elemen kedua di dalam reformasi adalah perbaikan struktur organisasi, menerapkan struktur berdasarkan fungsi dan memperbaiki administrasi dan menerapkan apa yang disebut Standart Operating Procedure. Ini ditujukan untuk memperbaiki kepastian suatu proses pelayanan dan memperbaiki tata kelola serta untuk memperbaiki efisiensi dan produktivitas. Pembenahan yang ketiga dalam reformasi pajak adalah membenahi basis data dan penggunaan Sistem Teknologi Informasi. Ini bertujuan untuk menunjang upaya menggali potensi pajak, memperbaiki pelayanan dan mencegah interaksi antara aparat pajak dengan wajib pajak secara tidak perlu. Yang keempat adalah reformasi di bidang perbaikan mutu, kompetensi dan integritas dari sumber daya manusia atau aparatnya.

Reformasi adalah suatu proses yang rumit, menyangkut suatu proses perubahan yang tidak selalu kita sukai. Ini menuntut suatu konsekuensi yang sangat banyak di antara kita termasuk di dalam mendisiplinkan sikap kita dan tingkah laku kita dan juga di dalam kesiapan untuk diaudit menjadi transparan dan akuntabel kepada publik. Reformasi di bidang perpajakan ini telah dimulai semenjak sebelum pemerintahan ini dan diteruskan di masa pemerintahan ini terutama di bawah kepemimpinan Bapak Darmin Nasution.

Kini, reformasi yang telah dirintis dan sudah mengakar pada jajaran aparat pajak masih mempunyai banyak tanggung jawab yang harus diemban. Sebelum dilantik sebagai Dirjen Pajak menggantikan Darmin Nasution, Drs.Mochammad Tjiptardjo, M.A. menjabat sebagai Direktur Intelijen dan Penyidikan Ditjen Pajak. Kasus-kasus pelanggaran pajak di Indonesia diselesaikan dengan tangan dinginnya. Diantara catatan prestasi yang pernah dilakukan adalah penanganan kasus dugaan manipulasi pajak oleh PT Asian Agri dengan potensi kerugian negara sekitar 1,3 Triliun. Bukan hanya itu, masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang berhasil diselesaikan olehnya.

Tjiptardjo selama ini dikenal sebagai pejabat yang cukup tinggi komitmennya terhadap reformasi birokrasi di direktorat yang menghimpun penerimaan negara terbesar itu. Beliau optimis dan yakin dapat memenuhi target penerimaan pajak sesuai dengan APBN-P 2009.

Sebagai catatan, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sudah sepakat mematok target penerimaan pajak dalam APBN-P 2009 sebesar Rp 528,35 Triliun yang lebih kecil dibandingkan dengan target semula di APBN Penyesuaian Tahun 2009 sebesar Rp 548,91 Triliun.

Rabu, 20 Mei 2009

Finding Your Soulmate !

Setiap manusia ingin menemukan pujaan hatinya (soulmate). Itu sudah pasti dan tak bisa dipungkiri. Semua itu membutuhkan proses, mulai dari fase awal perkenalan (an introduction)  fase pendekatan (in a relationship)  fase pertunangan (engagement)  fase pernikahan (marriage). Kesabaran, kesetiaan, dan kejujuran setiap pasangan ikut menentukan keberhasilan setiap tahapannya. Tidak hanya itu, namun juga dibutuhkan kemampuan untuk saling toleransi, saling memahami dan mengerti keinginan pasangannya. Memang tidak mudah. Namun, semua itu tergantung pada niat. Ya, niat kita untuk membagi hati dengan pasangan kita. Berikut penulis akan mencoba menguraikan fase demi fase yang harus dilalui setiap pasangan (couple) untuk dapat mewujudkan sebuah keluarga harmonis yang tentunya menjadi idaman setiap keluarga yang baru terbina.

1. Perkenalan ( An introduction )
Mungkin sangat tidak asing bagi kita mendengar kata ‘Perkenalan’ ini. Saat kita merasa cocok dengan seseorang yang baru saja kita kenal atau mungkin sudah lama menjadi sahabat kita, dan seiring dengan berjalannya waktu, perasaan dari seorang sahabat itu bisa saja menjadi sebuah perasaan cinta. Fase ini merupakan fase awal mula kita akan memulai sebuah jaring komunikasi dengan seseorang yang awalnya tidak masuk dalam kehidupan kita sama sekali. Usahakan anda tidak menolak untuk diajak berkenalan dengan seseorang yang belum atau sama sekali anda tidak kenal. Tentunya, dalam konteks untuk menciptakan suatu hubungan yang positif.

2. Pendekatan ( In a relationship )
Fase kedua ini merupakan fase pendekatan dimana setiap couple diberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh perihal pasangannya. Banyak informasi yang mungkin bisa kita peroleh dalam fase ini. Namun, jangan salah, informasi yang didapat masih sangat minim sekali tetapi cukup untuk mendeskripsikan seperti apa soulmate kita itu. Kalau boleh dibilang, masa-masa ini merupakan masa yang cukup rentan terhadap gangguan dalam memulai suatu hubungan percintaan. Jaga baik-baik hubungan anda dengan pasangan ketika anda berada dalam fase ini.

3. Pertunangan ( Engagement )
Saat anda dan pasangan sudah merasa mantap untuk memiliki seutuhnya maka mulailah untuk mengikat satu sama lain dalam sebuah pertunangan. Mengikat namun dalam artian yang tidak ‘POSESIF’. Tentunya harus melibatkan orang tua dari kedua belah pihak pasangannya. Jika keluarga dari salah satu pasangan belum begitu menyetujui rencana pertunangan tersebut, jangan pernah putus asa. Dalam hal ini anda juga harus memastikan dan menyakini betul apakah benar ‘DIA’ adalah seseorang yang anda harapkan untuk menjadi pasangan sehidup semati. Banyak waktu yang bisa anda gunakan untuk mengetahui sifat pasangan anda lebih dalam lagi, mengenali kekurangan dan kelebihan dia, dan lebih dekat dengan keluarganya, sebelum anda memutuskan untuk menikah dengan si ‘DIA’.

4. Pernikahan ( Marriage )
Fase yang paling anda tunggu-tunggu di sini adalah pernikahan (marriage). Anda dan pasangan sudah mantap memutuskan untuk menikah, sehidup-semati mengarungi bahtera rumah tangga, berarti anda sudah siap untuk berbagi dengan pasangan anda. Kerap hal-hal kecil dalam diri pasangan anda, belum terdeteksi oleh anda pada saat sebelum menikah. Menurut pengalaman beberapa pasangan yang sudah menikah, akan ada sisi yang berbeda melekat dalam diri pasangan anda. Seyogyanya kita memaklumi satu sama lain. Dia punya kekurangan yang mungkin kita bisa menutupinya dengan kelebihan kita dan demikian sebaliknya. Jangan jadikan alasan ketidakcocokan akan hal-hal kecil dalam diri pasangan anda sebagai pemicu timbulnya perceraian. Di awal seusai pernikahan, karena tergolong sebagai pengantin baru, tanpa disadari anda mungkin akan mengelak jikalau akan anda temui percekcokan di suatu hari nanti. Entah itu yang dikategorikan cekcok ringan, sedang atau berat. Setiap pasangan pasti pernah mengalami hal itu. Wajar saja, untuk menyatukan dua hati yang berbeda memang tidak lah semudah kita membalikkan telapak tangan. Yang bisa kita lakukan jika kita sudah menikah adalah berusaha semaksimal mungkin untuk membina rumah tangga yang sa-ma-ra (sakinah, mawaddah, warrahmah), menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif, mencintai satu sama lain kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Jangan hanya mencintai atas kelebihannya, tetapi cintai lah juga kekurangannya. Untuk pasangan yang akan memutuskan untuk menikah, yakinkan diri anda terhadap si ‘DIA’ yang anda pilih. Jika hati anda berkata ‘YA’ dan secara lahir dan batin anda sudah merasa ‘SIAP’, maka segera lah menikah karena menikah itu secara agama Islam, hukumnya adalah wajib bagi setiap manusia yang merasa mampu baik secara lahir maupun bathin. Yang terpenting adalah selalu jaga cinta anda kepada pasangan. Berikan kasih sayang yang tulus kepadanya dan berusaha lah untuk selalu mendukung si ‘DIA’ dalam hal suatu pendapat dan tindakan yang benar.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kedua sebagai Mahasiswa Pemula (www.mahasiswapemula.blogspot.com)
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.

Senin, 20 April 2009

Kartini Day

Today is Kartini Day, April 21, 2009. RA Kartini, exactly called as Raden Ayu Kartini was the Hero of Indonesian women from the early years of 1900. She was born at Jepara, Central Java. She died at twenty-five years old in Rembang, Central Java, Sept.17.1904. Kartini has convinced that women should have the same education as men, and have the rights to work in any kind of professions. All of these used to develop Indonesia to be the most country which encourage its citizens. Nothing could change this country if no body could have the same idea between men and women. Nevertheless, there is too much crime, violence and so on. We also see thousands of women get such as strict violence from her husband. What happened with us? Many people stand here to see this crime, but no one can solve the case. What we can do for this country. We have thought that every body can do the right things for themselves and what our hopes for the better life. If we want to explore our talents and do the best for everything we want the most, its not likely we have the same purpose to make our life better.

On the other hand, many things can return back our memory to the Hero of Indonesian women, just commemorate or celebrate Kartini day is not enough for us today. The question is What we can do for the next generation, for ourselves and especially for Indonesia. Celebrating Kartini Day is not only with preparing at school by dressed in traditional Javanese clothing but also how to change our mind set to become more intellectual, creative, brave to do the best and right ones, and give independence to people as much as they can do with the right rules.

Continuously, women have to start keeping the capability, intellectual, and also care to the society. We can do many things right now. Save Indonesian women with your thoughts, creativity, and so on. Strive your nations as fast as your way.

Lastly, I wanna say thanks to our great Indonesian hero, RA Kartini.
Thanks for your strive to the next generation especially women.
And for Indonesian women, lets make a new hope in your life and do the best for all.

Rabu, 15 April 2009

The Virgin - Cinta Terlarang

Kau kan slalu tersimpan di Hatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku 'kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku

Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya sungguh mencintainya

Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya

Mengapa cinta ini terlarang
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu