Rabu, 27 Agustus 2008

Warsih vs Warso Bagian 07

BAG.07

Warsih di depan rumah, siap berjualan kue.

Warsih :Semoga daganganku hari ini laku. Tak seperti dua hari yang lalu, hanya untung 10 ribu. Begitu juga seminggu lalu. Kalau begini terus, bagaimana aku harus membayar hutang-hutangku. Waktu Mas Warso masih bekerja di sawah Pak Broto dulu, meski pas-pasan, tapi nyaman sekali perasaanku. Mungkin keadaanku tak seberat ini kalau Mas Warso ada di sisiku. Mas Warso, apa kamu tahu, aku sedang merindu. Selalu...


Warsih berjualan kue keliling kampung. Banyak pemuda langsung merubung, gandrung.

Warsih : Berjalan jauh tentulah penat

Apa boleh buat walaupun berat

Berjualan kue-kue nan lezat

Maka rejeki tentu ku dapat

Berjalan jauh tentulan penat

Untuk apa beristirahat

Keliling kampung cuma sesaat

Maka rejeki tentu ku dapat

Kue lezat kue yang nikmat

Siapa cepat dia yang dapat

Kue lezat kue yang nikmat

Rejeki ngumpul hilanglah penat

Koor : Kalau hanya membeli kue, itu soal biasa

Dapat senyum manismu, itu yang utama

Kalau perlu kue-kuemu kuborong semua

Asal dapatkan janji jalan bersama

Juragan Broto Tiba-Tiba Muncul

Broto :Berkhayal itu memang tak apa-apa

Tapi tak baik jika tidak berkaca

Siapakah orang terkaya di ini desa

Broto namanya, akulah orangnya

Koor para pemuda itu segera membungkuk hormat

Broto :Ada apa ini? Belum jam istirahat, kalian ada di sini? Bagaimana sawahku bisa berisi padi? Ayo semuanya kerja kembali!! Anggap saja seluruh kue dagangan Warsih sudah terbeli!


Semuanya Meninggalkan Broto dan Warsih tanpa berkata-kata

Broto : Warsih, seluruh kuemu itu aku yang beli. Ini uangnya tak usah pakai kembali. Soal mereka , kamu harus maklumi. Begitulah kaum lelaki. Tak boleh melihat wajah cantik berseri. Kau yang paling cantik di desa ini, itu memang aku akui. Tapi apa mereka tak tahu kalau kau sudah bersuami...

Warsih :Tapi saya tak pernah mengambil hati. Mereka hanya menggoda, itu saya maklumi. Toh mereka memang ingin membeli.

Broto : Tapi aku tak bisa berdiam diri. Apalagi kau itu istri Warso yang dulu bekerja mengurus sawahku juga di desa ini. Dan ia orang yang baik sekali. Sayang, ia tak ingin sekedar menjadi buruh tani.

Warsih : Ya, memang sayang sekali. Aku ditinggalkannya sendiri di sini. Tapi tujuannya ke Jakarta sungguh mulia sekali. Ia ingin menepati ia punya janji.

Broto : Janji? Janji semacam apa yang telah ia beri?

Warsih :Sebelum menikah, ia bilang begini:

Kalau kau mau menjadi istri

Sebuah kalung emas akan kubeli

Dan namamu akan tertulis di sebuah liontin berbentuk hati

Akan kuberi sebagai hadiah ulang tahunmu nanti

Begitulah ia telah berjanji.

Broto : Jadi hanya demi janji sederhana semacam itu ia pergi? Ke Jakarta yang aku tahu sekali tak punya hati. Masih untung kalau ia tak mati berdiri. Memangnya ia pikir di Jakarta itu mudah mencari rejeki. Kecuali ia punya keahlian yang tinggi. Itupun harus didukung keberuntungan yang juga tinggi. Tapi setahuku, suamimu itu tak pernah sekolah sama sekali. Jadi bagaimana ia bisa yakin sekali.

Warsih :Tapi saya berdoa untuknya setiap hari. Dan saya tahu, ia akan kembali untuk menepati janji. Sebuah kalung emas pertanda cinta di hati. Ia memang seorang lelaki sejati...

Broto :Lelaki sejati tak akan pernah meninggalkan seorang istri walaupun hanya sehari. Apalagi hanya perkara janji yang biasa saja bagi diriku ini. Sepuluh kalung emas semacam itu bisa kuberi. Apakah itu bisa berarti, dibandingkan dengan cinta kau punya suami, cintaku sepuluh kali lebih murni?

Warsih :Apa yang juragan Broto maksudkan tadi? Juragan telah merendahkan saya punya suami. Saya minta juragan tidak menghina sesuka hati.

Broto :Aku bukannya menghina kau punya suami. Aku hanya katakan kalau aku bisa saja memberi sepuluh kali lipat dari apa yang suamimu bisa beri. Dan satu hal yang pasti, jika aku jadi dirinya, aku tak akan meninggalkanmu barang sehari. Sayang, wanita secantik dirimu disia-siakan oleh lelaki ...

Warsih :Saya sungguh-sungguh tak mengerti, ke arah mana pembicaraan ini...

Broto :Kalau kau perlu sesuatu untuk kebutuhanmu sehari-hari, kau boleh katakan padaku dan pasti akan langsung kuberi. Juga,...pabila kau butuh....Apapun pasti akan kuberikan juga sepenuh hati...

Warsih : Maaf, saya tak pernah punya niat semacam itu di hati. Saya harus pergi. Permisi...

Warsih langsung bergegas pergi

Broto : Ha ha ha...Jinak-jinak merpati. Suatu hari, engkau pasti kan kumiliki...

Tidak ada komentar: